|
|||||
|
|
|||||
|
|
International call for paper on Islamic Awakening,
Seyyed Jamaludin Asadabadi Prize
Deputy for Press and
Information of Ministry of Culture and Islamic Guidance In Islamic Republic
of Iran, with respect to the impact of Islamic Awakening on the cross
regional potentials of Iranian press is to hold the International Prize of
Seyyed Jamaludin Asadabadi on March
8, 2012 and award the best works on the Islamic Awakening.
In this
connection the honorable representatives of foreign media in Tehran are kindly requested to send their
works including editorials, articles, notes, reports, interviews,
photographs, and documentaries about the Islamic Awakening produced between
Nov.22, 2010 and Feb. 4,
2012 to the Foreign Media Department.
Award
section:
1- editorial
2- article
3- note
4- report
5- interview
6- photo ( news or otherwise)
7- documentary
Theme
or subject:
Islamic Awakening
General
conditions:
1 - Number of works to be sent: 3
2- Those works that
have been published within the past year in
the foreign media will be accepted.
3- The works should
deal with Islamic Awakening
Special
conditions:
1- Article section:
The sent documents
should be the original page or the copy of article page in newspaper or news
agency and in case of audio-visual, the footage should bear the logo of the
media.
2- Editorial section:
Only editorials of
newspapers, monthlies and weeklies will be accepted.
3- Photo section
- size: no restriction
- Specifications: PPEG. DPI 300
- Black and white
- In addition to the published copy
the CD format of the photo should also be included
4- Film section:
Those works produced
jointly will be awarded under
collective name
Closing
Date:
- the final day for receiving the
original works : February
9, 2012
-
Interested
individuals can send their works to following address:
No.15,
2nd Floor, 8th St.,
Ghaem Magham, Street, Tehran,
Iran,
Tel:
88751754
Fax:
88757845
Electronic Post: f.correspondents@farhang.gov.ir
Applicants can obtain
additional information from the internet sight of this Department at
following address:
It should be noted that
winners of each section will be invited to receive their prize in a ceremony
to be held on March 8, 2012.
All costs including round ticket, accommodation and catering would be covered
by the Press and Information Department of Iranian Ministry of Culture and
Islamic Guidance.
|
||||
Rabu, 08 Februari 2012
International call for paper on Islamic Awakening: Seyyed Jamaludin Asadabadi Prize
Rabu, 11 Januari 2012
Seminar Hukum Online, Htl Atlet Century Park Jkt, 12 Januari 2011
Seminar Hukum Online, Htl Atlet Century Park Jkt, besok 12 Januari 2011
oleh Harry Azhar Azis II pada 12 Januari 2012 pukul 0:27
PEMANTAPAN REGULASI DI SEKTOR BISNIS DAN INVESTASI[1]
Dr. Harry Azhar Azis, MA.[2]
Dengan diubahnya UU No. 10 Tahun 2004 menjadi UU No. 21 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, panduan penyusunan produk legislasi diharapkan semakin jelas dan terarah. Masuknya kembali TAP MPR dalam hierarki Peraturan Perundang-Undangan merupakan amanat dari Aturan Peralihan UUD NKRI 1945 Pasal 1. Konsekuensinya adalah revisi UU No. 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang terkait dengan tugas dan wewenang MPR, tidak saja mengubah dan menetapkan UUD 1945 namun juga mengubah dan menetapkan TAP MPR. Agenda revisi tersebut sudah masuk dalam prioritas Prolegnas 2012.
Berlakunya kembali TAP MPR merupakan upaya dalam mewujudkan good governance dan good coorporate governance serta sebagai mekanisme kontrol atas berbagai regulasi yang menitikberatkan pada birokrasi. Proses reformasi dan demokrasi yang membuka dan semakin marak dan terbukanya KKN serta ketidakadilan mendorong berlakunya kembali TAP MPR dengan kedaulatan rakyat sebagai fokus utama. Di dalam TAP MPR No. 1 Tahun 2003 Pasal 2, politik ekonomi Indonesia harus berpihak pada usaha kecil dan menegah, serta menjadikan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. Hal tersebut jelas menyiratkan bahwa politik ekonomi yang berpihak pada korporasi semata sangat bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945, sehingga melahirkan gejolak sosial dan politik yang berujung pada terancamnya integrasi dan integritas bangsa. Dengan demikian, berlakunya kembali TAP MPR diharapkan dapat semakin memperkokoh fondasi perekonomian dengan rakyat sebagai kekuatan utama.
Bapepam-LK (2010) mencatat penguasaan asing atas pasar modal Indonesia sebesar 62,27%. Hal ini tentu menjadi masalah ketika aksi profit taking terjadi yang menyebabkan instabilitas di pasar modal domestik. Namun, di sisi lain, hal tersebut menguntungkan bagi kondisi makoekonomi Indonesia, karena sektor riil masih tetap bertahan terutama sektor usaha UMKM, sehingga pada saat krisis terjadi, perekonomian domestik tetap bertahan dengan pertumbuhan ekonomi positif. Kestabilan kondisi makroekonomi domestik menjadi kunci keberhasilan peningkatan investment grade dari BB+ menjadi BBB-, sehingga turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Nilai kapitalisasi pasar modal sepanjang tahun 2008-2010 terus naik terhadap PDB. Tercatat, tahun 2008 sebesar 33,8% dan tahun 2010 menjadi 62,3% PDB.[3] Kecenderungan peningkatan tersebut tidak berkorelasi positif dengan laju peningkatan kontribusi sektor riil terhadap PDB yang ditunjukkan oleh penurunan laju investasi terhadap PDB yaitu 11,9% pada tahun 2008 menjadi 8,5% pada tahun 2010.[4] Dengan demikian, kemajuan kapitalisasi pasar modal dalam hal intermediasinya terhadap sektor riil masih dipertanyakan. Kenaikkan IHSG sebagai bagian dari kepercayaan pasar pada kenyataannya hanya membuahkan inflasi yang cenderung persisten dengan menariknya faktor kenaikkan harga produk pangan, perkebunan dan pertambangan bagi investor. Disamping itu, penguasaan pangsa industri keuangan di pasar modal (46,96%) menyebabkan sulitnya sektor riil mengakses likuiditas terutama bagi skala usaha mikro, kecil, dan menengah karena antisipasi industri keuangan terhadap gejolak global dan arus keluar portofolio investor asing.
Kedua, memperkuat fungsi pengawasan OJK di pasar modal terutama dalam kaitannya kegiatan perbankan. Unsur afiliasi harus dihilangkan dari berbagai pihak yang bergerak di pasar modal untuk mendukung iklim usaha kondusif dengan prinsip kehati-hatian, sehingga kepercayaan domestik akan meningkat terhadap pasar modal.
Ketiga, Bank Indonesia harus mencari solusi alternatif untuk menjaga nilai tukar Rupiah, sehingga cadangan devisa tidak terus-menerus mengalami penurunan. Disamping itu, pengawasan terhadap kegiatan perbankan harus ditingkatkan sebelum beralih kepada OJK, terutama terhadap jual beli valas dan mekanisme pembiayaan perbankan dengan valas, untuk mengantisipasi konversi profit usaha ke dalam valas.
Keempat, Pemerintah harus benar-benar menjalankan UU No. 21 Tahun 2011 sesuai dengan prinsip demokrasi dan otonomi. Ketaatan pembuatan regulasi yang berpedoman pada hierarki peraturan perundang-undangan akan menghilangkan tumpang tindihnya regulasi yang menghambat investasi dan kemajuan daerah, karena pada dasarnya produk derivatif dari UU sebagai pedoman pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah. Pemerintah Pusat hanya terfokus pada pencapaian target-target makroekonomi dengan alokasi dan distribusi sumber daya yang tepat bagi kemakmuran rakyat sesuai amanat konstitusi.
TAP MPR menafsirkan Pasal 33 UUD NKRI 1945 sebagai perekomian rakyat dengan koperasi pilar utama, bukan pasar finansial yang liberal dan tidak berpihak terhadap sektor riil. Kapitalisasi pasar modal sebesar 100% dari PDB, tentu merupakan hal yang bertentangan dengan politik ekonomi kerakyatan. Pada kenyataannya, perkembangan pasar modal hanya berakibat pada peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran.
Oleh karena itu, revisi terhadap UU Pasar Modal diperlukan, tidak hanya menyangkut keberadaan OJK, namun yang lebih penting adalah menambah muatan-muatan yang dapat memperketat aliran modal masuk dalam bentuk hot money. Dengan demikian, pasar modal lebih pudent dan berperan dalam intermediasi sektor riil terutama sektor UMKM yang telah menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis dan mencapai peningkatan investment grade.
[1]Seminar HKHPM-Hukumonline 2012 “Memahami Lika-liku Hierarki Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan UU 12/2011 dan Prioritas Legislasi di Sektor Bisnis & Investasi”. Hotel Atlet Century Park, Jakarta, 12 Januari 2012.
[2] Wakil Ketua Komisi XI Keuangan dan Perbankan DPR RI (2010-2014), Ketua Badan Anggaran DPR RI (2009-2010), Wakil Ketua Panitia Anggaran (2008-2009), Anggota FPG DPR Dapil Kepulauan Riau, PhD Oklahoma State University, Amerika Serikat (2000), lahir di Tanjungpinang (1956).
[3] Buku II RKP 2012.
[4]BPS, 2012.

Dr. Harry Azhar Azis, MA.[2]
- I. PENDAHULUAN
Dengan diubahnya UU No. 10 Tahun 2004 menjadi UU No. 21 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, panduan penyusunan produk legislasi diharapkan semakin jelas dan terarah. Masuknya kembali TAP MPR dalam hierarki Peraturan Perundang-Undangan merupakan amanat dari Aturan Peralihan UUD NKRI 1945 Pasal 1. Konsekuensinya adalah revisi UU No. 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang terkait dengan tugas dan wewenang MPR, tidak saja mengubah dan menetapkan UUD 1945 namun juga mengubah dan menetapkan TAP MPR. Agenda revisi tersebut sudah masuk dalam prioritas Prolegnas 2012.
Berlakunya kembali TAP MPR merupakan upaya dalam mewujudkan good governance dan good coorporate governance serta sebagai mekanisme kontrol atas berbagai regulasi yang menitikberatkan pada birokrasi. Proses reformasi dan demokrasi yang membuka dan semakin marak dan terbukanya KKN serta ketidakadilan mendorong berlakunya kembali TAP MPR dengan kedaulatan rakyat sebagai fokus utama. Di dalam TAP MPR No. 1 Tahun 2003 Pasal 2, politik ekonomi Indonesia harus berpihak pada usaha kecil dan menegah, serta menjadikan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. Hal tersebut jelas menyiratkan bahwa politik ekonomi yang berpihak pada korporasi semata sangat bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945, sehingga melahirkan gejolak sosial dan politik yang berujung pada terancamnya integrasi dan integritas bangsa. Dengan demikian, berlakunya kembali TAP MPR diharapkan dapat semakin memperkokoh fondasi perekonomian dengan rakyat sebagai kekuatan utama.
- II. INTERMEDIASI PASAR MODAL
Bapepam-LK (2010) mencatat penguasaan asing atas pasar modal Indonesia sebesar 62,27%. Hal ini tentu menjadi masalah ketika aksi profit taking terjadi yang menyebabkan instabilitas di pasar modal domestik. Namun, di sisi lain, hal tersebut menguntungkan bagi kondisi makoekonomi Indonesia, karena sektor riil masih tetap bertahan terutama sektor usaha UMKM, sehingga pada saat krisis terjadi, perekonomian domestik tetap bertahan dengan pertumbuhan ekonomi positif. Kestabilan kondisi makroekonomi domestik menjadi kunci keberhasilan peningkatan investment grade dari BB+ menjadi BBB-, sehingga turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Nilai kapitalisasi pasar modal sepanjang tahun 2008-2010 terus naik terhadap PDB. Tercatat, tahun 2008 sebesar 33,8% dan tahun 2010 menjadi 62,3% PDB.[3] Kecenderungan peningkatan tersebut tidak berkorelasi positif dengan laju peningkatan kontribusi sektor riil terhadap PDB yang ditunjukkan oleh penurunan laju investasi terhadap PDB yaitu 11,9% pada tahun 2008 menjadi 8,5% pada tahun 2010.[4] Dengan demikian, kemajuan kapitalisasi pasar modal dalam hal intermediasinya terhadap sektor riil masih dipertanyakan. Kenaikkan IHSG sebagai bagian dari kepercayaan pasar pada kenyataannya hanya membuahkan inflasi yang cenderung persisten dengan menariknya faktor kenaikkan harga produk pangan, perkebunan dan pertambangan bagi investor. Disamping itu, penguasaan pangsa industri keuangan di pasar modal (46,96%) menyebabkan sulitnya sektor riil mengakses likuiditas terutama bagi skala usaha mikro, kecil, dan menengah karena antisipasi industri keuangan terhadap gejolak global dan arus keluar portofolio investor asing.
- III. UPAYA PEMANTAPAN SEKTOR BISNIS DAN INVESTASI
Kedua, memperkuat fungsi pengawasan OJK di pasar modal terutama dalam kaitannya kegiatan perbankan. Unsur afiliasi harus dihilangkan dari berbagai pihak yang bergerak di pasar modal untuk mendukung iklim usaha kondusif dengan prinsip kehati-hatian, sehingga kepercayaan domestik akan meningkat terhadap pasar modal.
Ketiga, Bank Indonesia harus mencari solusi alternatif untuk menjaga nilai tukar Rupiah, sehingga cadangan devisa tidak terus-menerus mengalami penurunan. Disamping itu, pengawasan terhadap kegiatan perbankan harus ditingkatkan sebelum beralih kepada OJK, terutama terhadap jual beli valas dan mekanisme pembiayaan perbankan dengan valas, untuk mengantisipasi konversi profit usaha ke dalam valas.
Keempat, Pemerintah harus benar-benar menjalankan UU No. 21 Tahun 2011 sesuai dengan prinsip demokrasi dan otonomi. Ketaatan pembuatan regulasi yang berpedoman pada hierarki peraturan perundang-undangan akan menghilangkan tumpang tindihnya regulasi yang menghambat investasi dan kemajuan daerah, karena pada dasarnya produk derivatif dari UU sebagai pedoman pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah. Pemerintah Pusat hanya terfokus pada pencapaian target-target makroekonomi dengan alokasi dan distribusi sumber daya yang tepat bagi kemakmuran rakyat sesuai amanat konstitusi.
- IV. PENUTUP
TAP MPR menafsirkan Pasal 33 UUD NKRI 1945 sebagai perekomian rakyat dengan koperasi pilar utama, bukan pasar finansial yang liberal dan tidak berpihak terhadap sektor riil. Kapitalisasi pasar modal sebesar 100% dari PDB, tentu merupakan hal yang bertentangan dengan politik ekonomi kerakyatan. Pada kenyataannya, perkembangan pasar modal hanya berakibat pada peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran.
Oleh karena itu, revisi terhadap UU Pasar Modal diperlukan, tidak hanya menyangkut keberadaan OJK, namun yang lebih penting adalah menambah muatan-muatan yang dapat memperketat aliran modal masuk dalam bentuk hot money. Dengan demikian, pasar modal lebih pudent dan berperan dalam intermediasi sektor riil terutama sektor UMKM yang telah menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis dan mencapai peningkatan investment grade.
[1]Seminar HKHPM-Hukumonline 2012 “Memahami Lika-liku Hierarki Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan UU 12/2011 dan Prioritas Legislasi di Sektor Bisnis & Investasi”. Hotel Atlet Century Park, Jakarta, 12 Januari 2012.
[2] Wakil Ketua Komisi XI Keuangan dan Perbankan DPR RI (2010-2014), Ketua Badan Anggaran DPR RI (2009-2010), Wakil Ketua Panitia Anggaran (2008-2009), Anggota FPG DPR Dapil Kepulauan Riau, PhD Oklahoma State University, Amerika Serikat (2000), lahir di Tanjungpinang (1956).
[3] Buku II RKP 2012.
[4]BPS, 2012.

Selasa, 10 Januari 2012
Jumat, 23 Desember 2011
Jumat, 09 Desember 2011
Sholat Gerhana Bulan Total ini akan diikuti sekitar 300
Sebagai
pengakuan kebesaran ALLAH SWT dan pentingnya meluruskan akidah, SMK
MUHAMMADIYAH Jatiroto, Kab. Lumajang , Jawa Timur, menggelar Sholat Gerhana Berjamaah
di area sekolah. Sholat Gerhana ini akan diselenggarakan tepat saat terjadinya Gerhana
Bulan Total (GBT) pada Sabtu, 10
Desember 2011 pk. 19.45 WIB. Penentuan waktu dan jam terjadinya Gerhana Bulan
Total didasarkan pada kalender Muhammadiyah.
Sholat Gerhana
Bulan Total ini akan diikuti sekitar 300 siswa ditambah Dewan Guru. Selain civitas
sekolah, Pihak sekolah juga menghimbau dan mengajak Umat Muslim sekitar sekolah
untuk mengikuti sholat Gerhana Berjamaah. Setelah Sholat Gerhana Berjamaah,
kegiatan ini akan disambung dengan kutbah.
Menurut
Kepala Sekolah SMK MUHAMMADIYAH Jatiroto, Tugimanto, Sholat GBT ini, selain
berhukum sunnah muakkad, ini juga menjadi media pembelajaran bagi siswa.
Terutama untuk mengakui serta mengenalkan keagungan dan kebesaran ALLAH. “Bagi
siswa dan civitas sekolah selain untuk meneguhkan iman, kegiatan ini merupakan
salah satu bentuk dari implementasi Pendidikan Berkarakter yang dicanangkan
Diknas Pendidikan,” sambung Tugimanto.
Kegiatan ini
juga mendapat dukungan dari Pimpinan Cabang MUHAMMADIYAH (PCM) Jatiroto. Karena
selain sebagai media pembelajaran bagi siswa, juga sebagai media untuk pelurusan
akidah umat muslim di daerah Jatiroto. GBT tidak berkaitan dengan kejadian apa
pun apalagi mitos yang berkembang di masyarakat. Termasuk mengaitkannya dengan
kematian seseorang. Penegasannya, langsung bersumber dari Rasulullah saat
menampik anggapan sebagian orang kala itu. Mereka mengaitkan peristiwa gerhana
dengan kematian putra Rasulullah, Ibrahim.
Momen GBT
tepat untuk mengajak umat kembali mengingat kebesaran Allah. Terlebih kondisi
bangsa saat ini tengah dilanda berbagai krisis. Mulai dari bencana, korupsi,
hingga ketegangan yang terjadi antarumat beragama belakangan ini.
Info lebih lanjut:
Hari
Budianto : 0815520016 (mail: haribudianto@gmail.com)
SMK
MUHAMMADIYAH Jatiroto
Jl. Jatiroto 01 Jatiroto, Lumajang – JATIM
Telp/Fax :
(0334) 323228,
Senin, 05 Desember 2011
Bakrie Telecom dan Semangat Kepahlawanan
|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Copyright SCTV - Satu Untuk Semua Privacy Policy. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
BAKRIE GELAR ICT dfor Green Asia di Jakarta
| |||||||||||
| |||||||||||
Langganan:
Postingan (Atom)
